Mall Shamoo di Korea, ambruk. Menewaskan ratusan orang pengunjungnya. Bagaimana mungkin mall yang megah itu bisa ambruk begitu saja? Hasil penyelidikan menemukan bahwa penyebab ambruknya mall itu terkait dengan sejarah masa lalu, hal remeh, yaitu bangunan mall berlantai lima tersebut ternyata semula didesain untuk menjadi sebuah kantor.

Bangunan kantor yang sudah setengah jadi itu, di tengah jalan diubah menjadi bangunan mall oleh sang pemilik bangunan yang berambisi untuk meraup keuntungan. Sang arsitek yang mendesain bangunan kantor, bersikeras menolak perubahan konsep menjadi mall karena ia tahu akibatnya. Sangat berbahaya. Singkat cerita, sang pemilik bangunan, memecat arsitek lama karena menolak keinginannya dan memberikan proyek itu kepada arsitek yang baru. Oleh sang arsitek baru, dengan desain yang menurutnya mutakhir, ukuran tiang penyangganya diubah, diperkecil beberapa inci.

Mall Shamoo berdiri megah. Ribuan pengunjung berdatangan setiap harinya. Tanpa disadari pengunjung, mall itu menyimpan bahaya yang mengincar, yaitu bisa ambruk kapan saja. Apatah lagi, di atap mall diletakkan pula AC yang beratnya puluhan ton tanpa ada pertimbangan akan sejarah fondasi dan kekuatan tiang penyanggga bangunan tersebut.

Walhasil, mall megah dengan tiang penyangga yang memang tidak di konsep menjadi mall oleh arsitek sebelumnya, ambruk hanya dalam hitungan menit saja. Merenggut ratusan jiwa. Demikianlah, tragedi itu terjadi hanya karena ambisi pemilik bangunan, dan karena minimnya wawasan sang arsitek yang baru.

Mungkin seperti itu pulalah bangunan dakwah ini. Fondasi dan tiang penyangga sudah disiapkan untuk sebuah proyek berjangka waktu sekian dan sekian. Sebuah proyek yang tidak bisa selesai hanya dalam satu tahun kepengurusan. Apatah lagi mengubah masyarakat yang jahil dan mencetak generasi Rabbani, membutuhkan proses istimror. Tidak bisa sekejap. Sebuah konsep yang telah disepakati melalui syuro dengan banyak kepala, maka sudah seharusnya dilaksanakan oleh seluruh elemen dakwah. Dalam keadaan berat ataupun ringan.

Bangunan dakwah, mengharuskan adanya estafet generasi untuk melanjutkan pekerjaan yang belum selesai. Uji ketahanan dan keampuhan konsep, tidak bisa dilihat dengan isti’jal atau terburu-buru. Maka sebaiknya diberikan jangka waktu yang pas. Cara, bisa berganti-ganti, tapi konsep, sebaiknya tidak sering berganti. Membuat Repelita.

Sayangnya, laporan pertanggung jawaban itu seringkali hanya dibuat sebagai formalitas dan tidak dibaca atau diperhatikan oleh generasi penerus. Memulai lagi dari nol. Adalah masalah klassik. Tidak pernah terselesaikan. Berganti kepengurusan, berganti pula target, dan kebijakan. Berubah-ubah sesuai isi kepala, jangkauan wawasan dan dalamnya pemahaman masing-masing generasi. Sedangkan waktu terus berputar. Setiap generasi, bisa saja mengklaim konsepnya adalah yang lebih baik. Jika demikian halnya, maka kapankah bangunan dakwah ini akan berdiri kokoh. Kapankah kereta dakwah ini akan bergerak menuju tempat tujuan. Syuro dan syuro. Kapankah waktu untuk action ?

Dakwah itu harus fleksibel. Sesuai medan. Dakwah di kampus, yang notabene hanya untuk 4 tahun masa kuliah, digunakan konsep yang sesuai kampus. Input bahan baku di tahun pertama. Proses. Dan setelah tahun keempat, sudah ada out put alumni kampus yang berafiliasi kepada Islam. Yang akan masuk ke medan selanjutnya. Masyarakat.

Arsitek dakwah.

(Ngga Nyambung :p)

By syahdan, 1 August 2007, 14:03 o'clock

Add your own comment or set a trackback

Currently 1 comment

  1. Comment by Ovvi

    Ass.

    bagaimana Arsitek indonesia Gubernur Jakarta Sek kan orang Arsitek handal dariJerman
    bagaimana Dengan Jakarta ?

    Wass.

Add your own comment



Follow comments according to this article through a RSS 2.0 feed