Ketika saya mendengarkan kata ?ilmu? yang pertama kali terbesit dalam benak saya adalah buku. Karena buku memang salah satu sumber ilmu terbesar. Lewat buku kita bisa memperoleh ilmu yang sangat banyak dan pengetahuan yang sangat luas. Jika membayangkan kondisi saya sekitar tujuh tahun yang lalu, saya akan mendapati diri saya dalam keadaan tidak mengenal buku. Satu-satunya buku yang mampu menarik perhatian saya adalah komik. Tidak bisa terbilang sedikit komik yang saya miliki pada saat itu. Mungkin hampir memenuhi satu lemari khusus buku yang saya miliki.

Waktu itu saya berpikir bahwa buku hanyalah sarana untuk refreshing dan melepas kepenatan, jadi mengapa harus membaca buku-buku ilimiah yang berat dengan yang hanya akan menambah pikiran ini itu. Ketika masuk kuliah paradigma itu mulai bergeser sedikit demi sedikit namun tetap dalam satu koridor yang sama, ?membaca untuk refreshing dan menenangkan pikiran?. Pada saat kuliah inilah saya mulai tertarik dengan buku biografi orang-orang terkenal. Saya berpendapat toh tidak jauh beda dengan buku cerita bukan? Hanya saja objek dalam buku ini real bukan fiksi seperti di komik.

Singkat cerita perlahan paradigma baru terbentuk meninggalkan paradigma lama dan koridornya juga lumayan bergeser dan bertambah dari sekedar untuk refreshing menjadi refreshing dalam artian yang lebih dalam. Banyak buku-buku Islam dan pergerakan yang saya lahap mulai dari Risalah Pergerakan 1 dan 2, Memoar Hasan Al Banna, Perangkat-Perangkat Tarbiyah, Manajemen Da?wah Kampus, dan berbagai macam buku-buku ?aktivis? lainnya. Pada saat itu saya menganggap buku-buku tersebut sangat peting dalam mendukung pemahaman dan aktivitas saya sebagai aktivis da?wah kampus. Buku-buku tersebut menurut saya cukup membakar semangat dan melahirkan motivasi-motivasi baru dalam bergerak. Tak pelak bila ada buku-buku pergerakan dan Islam yang baru terbit langsung akan saya cari ke toko buku.

Tak terasa saya lebih menikmati buku-buku tersebut dibandingkan buku-buku ilmiah lainnya atau bahkan buku-buku kuliah sekalipun. Pandangan saya terhadap buku-buku ini sangat luar biasa. Sering bila mendapat kesempatan mengisi materi di suatu tempat saya menjadikan buku-buku tersebut sebagai rujukan utama.

Pada pertengahan tahun 2005 ada sebuah kejadian yang membuat mata saya terbuka. Pada saat itu keinginan saya untuk menuntut ilmu Islam sangat besar, maka dari itu saya ikut serta dalam kegiatan rutin di suatu ma?had. Di ma?had tersebut saya bertemu dengan seorang ustadz yang kegiatan dan aktifitasnya di dunia pergerakan dan Islam tidak diragukan lagi. Dia mengajar saya di salah satu kelas di ma?had tersebut. Sering kali diluar pelajaran pun kami sering berdiskusi.

Sampai pada suatu hari dia menguji pengetahun para muridnya dengan bertanya secara lisan. Beliau bertanya banyak hal mengenai hal-hal yang sangat dasar dan sebenarnya mudah untuk di jawab. Waktu itu beliau bertanya kepada saya mengenai rukun iman dan rukun Islam. Hasilnya sungguh mengejutkan jawaban saya ada yang terbolak-balik. Lalu dia bertanya tentang fiqh thaharah, dan ternyata jawaban saya tidak benar 100%. Dia juga bertanya tentang beberapa hadits yang seharusnya sangat mudah untuk dijawab. Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan tentang ilmu fiqh dan syariah yang dilontarkan kepada saya namun hanya beberapa yang bisa saya jawab secara sempurna. Padahal pertanyaan tersebut sering kita alami sehari-hari.

Setelah sesi kelas tersebut ustadz tersebut memanggil saya dan berkata dengan nada sedikit menegur. ?Pengetahun antum tentang pergerakan sudah baik, namun antum lupa dasar dan penyokong dari ilmu-ilmu tersebut. Sebelum itu ada ilmu-ilmu yang sudah seharusnya dipelajari sebagai pondasi yang kuat untuk berda?wah. Antara lain adalah pengetahuan tentang ilmu fiqh, syariah, dan ilmu-ilmu lain yang berkaitan dengan akidah.?

Teguran ustadz tersebut masih jelas tergambar di benak saya sampai sekarang. Ternyata selama ini saya dan bahkan mungkin teman-teman semua hanya membaca dan berusaha menambah ilmu untuk menghiasi semangat dan ghiroh saja. Namun ternyata melupakan ilmu yang merupakan dasar dan pondasinya. Tanpa ilmu tentang akidah, syariah, dan fiqh, semua ilmu lainnya akan rapuh di dalam walau terlihat kuat dan kokoh dari luar. Ilmu yang dimiliki adalah merupakan cerminan kualitas diri. Tentu kita tidak mau dianggap kuat bersemangat dari tampilan namun rapuh di dalam bukan?

Mengutip sedikit perkataan Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Baari Syarah Shahih Bukhari 1/40. Beliau (Ibnu Hajar) berkata : ?Ini (QS thaha : 114) dalil yang sangat jelas tentang keutamaan ilmu, karena Allah tidak pernah menyuruh Nabi-Nya Shalallahu?alaihi wasallam untuk meminta tambahan kecuali tambahan ilmu. Maksud ilmu tersebut adalah ilmu syar?i, yang berfaedah memberi pengetahuan apa yang wajib atas setiap mukallaf (muslim dan muslimah yang baligh) tentang perkara agama,ibadah dan muamalahnya. Ilmu mempelajari tentang Allah dan sifat-sifatnya dan apa yang wajib dia lakukan dari perintah-Nya serta mensucikannya dari sifat-sifatnya dan apa yang tercela. Poros dari semua itu adalah ilmu tafsir, ilmu Hadits dan ilmu Fiqh?.

Dari perkataan Ibnu Hajar tersebut bisa ditarik garis besar tentang pentingnya mempelajari Ilmu tafsir, ilmu hadits, dan ilmu fiqh. Dan bila ditarik benang merahnya Ilmu-ilmu tersebut adalah pondasi utama dari pengetahuan-pengetahuan tentang ilmu pergerakan dan sekitarnya.

Terakhir ada fenomena lain yang mendasari para aktivis da?wah hanya cenderung mempelajari buku-buku pergerakan. Yaitu ingin berkiprah dan dianggap tau benar tentang dunia pergerakan. Ingin terlihat sebagai aktifis tulen namun akhirnya hanya terpakai untuk hiasan luar belaka. Na?udzubillahi mindzalik. Dari fenomena ini bisa dilihat ternyata menuntut ilmu sangat mungkin sekali dihiasi dengan bumbu-bumbu riya yang terjangkit dalam hati. Coba lihat lagi ke dalam relung hati kita, apa motivasi kita berda?wah hari ini. Sudahkah ilmu-ilmu yang utama kita pelajari hari ini? (al_ichsan)

By al_ichsan, 1 June 2008, 15:24 o'clock

Dalam dunia bisnis maupun organisasi tidak bisa dipungkiri lagi bahwa metode Balanced Scorecard sudah lazim digunakan dalam hal pengukuran kinerja maupun pencapaian-pancapaian target organisasi. Metode ini dinilai lebih sempurna dan lebih menyeluruh (syamil) dalam menilai seluk beluk organisasi. Jika dibandingkan dengan metode lain seperti TQM (Total Quality Management) atau six sigma, BSC memiliki banyak kelebihannya. Melihat alasan segala sesuatunya sebenarnya bisa diukur maka saya memutuskan untuk mengadakan penelitian kecil-kecilan untuk lingkup lembaga da’wah kampus.

Berawal dari thesis saya yang berjudul “Analisis Balanced Scorecard Terhadap Visi Misi dan Strategi Bank Syariah Mandiri” (studi kasus BSM cabang Pekanbaru), maka saya berpikir untuk sekaligus melihatnya dari segi yang berbeda, yaitu dari segi lembaga da’wah kampus. Alhamdulillah thesis dan kompre kelulusan program Management Trainee BSM saya tersebut dinilai lulus walau ada sedikit revisi dalam thesis tersebut. Sedangkan dalam blog ini saya hanya ingin menuliskan resume dari BSC LDK yang rencananya akan saya tulis di hudzaifah.org.

Secara ringkasnya BSC membuat kita melihat kerangka organisasi terbagi sedikitnya menjadi empat persepsi. Yaitu persepsi pelanggan (customer perseption), persepsi internal control (internal control perseption), persepsi keuangan (financial perseption), dan yang terakhir persepsi pengembangan dan pertumbuhan ( growth & development perseption). Empat persepsi tersebut dinilai sudah cukup dalam membuat suatu kerangka strategis yang “diturunkan” dari visi dan misi organisasi da’wah. Sebenarnya masih banyak persepsi (sudut pandang) lain yang bisa digunakan, namun saya lebih memilih untuk disusutkan menjadi empat persepsi tersebut.

Secara ringkasnya (lagi), persepsi-persepsi tersebut bisa dijabarkan sebagai berikut.

Persepsi pelanggan (customer perseption) melihat bagaimana sebuah organisasi melayani para pelanggannya. Dalam lingkup pembahasan kita ini diibaratkan bagaimana organisasi melihat para objek da’wahnya. Dapat dinilai dengan beberapa tools, seperti penilaian kepuasan para objek da’wah, kenyamanan, dan seberapa jauh mereka mengenal oraganisasi tersebut. Dengan metode servqual bisa dilihat apakah harapan dan kenyataan sang objek da’wah terhadap oraganisasi tersebut sebanding. Nantinya objek da’wah ini pun bisa dibagi-bagi menjadi beberapa lingkup. Bisa dikelompokkan berdasarkan pemahaman, pengalaman, keilmuan, umur, dan lain-lain.
Persepsi internal control (internal control perseption) melihat seberapa jauh sebuah organisasi da’wah dapat mengendalikan kondisi dalam tubuhnya. Seberapa besar kemampuan orang-orang didalamnya dapat bergerak. Atau seberapa efektif metode-metode maupun perangkat-perangkat da’wah dapat berfungsi. Manhaj da’wah kampus yang sudah ada juga bisa ditingkat potensi penggunaannya.

Persepsi keuangan (financial perseption) melihat seberapa jauh kondisi keuangan organisasi da’wah dapat menunjang semua strategi dan agenda-agenda da’wah yang sudah tersusun. BSc dalam persepsi keungan ini juga nantinya akan memberikan solusi-solusi konkrit dalam pengumpulan dana dengan melihat potensi-potensi keuangan yang bisa digali oleh organisasi da’wah tersebut pada umumnya dan para kader-kader pada khususnya.

Persepsi pengembangan dan pertumbuhan ( growth & development perseption). Persepsi ini dinilai sebagai suatu dasar atau jantungnya organisasi da’wah. Karena persepsi ini diarahkan pointers-nya kepada para ADK-ADKnya yang tidak lain adalah para penggerak organisasi itu sendiri. Dalam sudut pandang ini kembali bisa digunakan metode servqual untuk melihat seberapa besar potensi para ADK dan seberapa besar harapan-harapan para ADK dibandingkan dengan kenyataan yang terjadi. Sudah banyak cara meningkatkan pemahaman, tarbiyah, maupun mental da’wah para ADK, namun karena masih beragam maka ada baiknya dibentuk suatu metode evaluasi (taqwim) yang bisa diukur. Bila cara pengukuran ini efektif maka akan menghasilkan suplemen-suplemen yang sangat dibutuhkan para ADK.

Itulah sekilas rencana penulisan tentang BSC LDK ini. Penjabaran secara utuhnya akan segera disusun dengan baik. Apabila ada usulan dalam rencana penulisan ini insya Alloh penulis sangat terbuka. Karena penulisan ini “baru” didasarkan atas pengetahuan dasar penulis tentang Lembaga Da’wah Kampus dan Metode Balanced Scorecard. Wallohua’lam bishowab… (DAI) Our online pharmacy is the perfect resource for people to get their drugs without any hassles or awkwardness. buy cialis We work hard to make sure you save money every time you shop with us. buy levitrabuy soma At our online store, you pay less and get more. buy viagra

By al_ichsan, 14 December 2007, 23:12 o'clock

Mall Shamoo di Korea, ambruk. Menewaskan ratusan orang pengunjungnya. Bagaimana mungkin mall yang megah itu bisa ambruk begitu saja? Hasil penyelidikan menemukan bahwa penyebab ambruknya mall itu terkait dengan sejarah masa lalu, hal remeh, yaitu bangunan mall berlantai lima tersebut ternyata semula didesain untuk menjadi sebuah kantor.

Bangunan kantor yang sudah setengah jadi itu, di tengah jalan diubah menjadi bangunan mall oleh sang pemilik bangunan yang berambisi untuk meraup keuntungan. Sang arsitek yang mendesain bangunan kantor, bersikeras menolak perubahan konsep menjadi mall karena ia tahu akibatnya. Sangat berbahaya. Singkat cerita, sang pemilik bangunan, memecat arsitek lama karena menolak keinginannya dan memberikan proyek itu kepada arsitek yang baru. Oleh sang arsitek baru, dengan desain yang menurutnya mutakhir, ukuran tiang penyangganya diubah, diperkecil beberapa inci.

Mall Shamoo berdiri megah. Ribuan pengunjung berdatangan setiap harinya. Tanpa disadari pengunjung, mall itu menyimpan bahaya yang mengincar, yaitu bisa ambruk kapan saja. Apatah lagi, di atap mall diletakkan pula AC yang beratnya puluhan ton tanpa ada pertimbangan akan sejarah fondasi dan kekuatan tiang penyanggga bangunan tersebut.

Walhasil, mall megah dengan tiang penyangga yang memang tidak di konsep menjadi mall oleh arsitek sebelumnya, ambruk hanya dalam hitungan menit saja. Merenggut ratusan jiwa. Demikianlah, tragedi itu terjadi hanya karena ambisi pemilik bangunan, dan karena minimnya wawasan sang arsitek yang baru.

Mungkin seperti itu pulalah bangunan dakwah ini. Fondasi dan tiang penyangga sudah disiapkan untuk sebuah proyek berjangka waktu sekian dan sekian. Sebuah proyek yang tidak bisa selesai hanya dalam satu tahun kepengurusan. Apatah lagi mengubah masyarakat yang jahil dan mencetak generasi Rabbani, membutuhkan proses istimror. Tidak bisa sekejap. Sebuah konsep yang telah disepakati melalui syuro dengan banyak kepala, maka sudah seharusnya dilaksanakan oleh seluruh elemen dakwah. Dalam keadaan berat ataupun ringan.

Bangunan dakwah, mengharuskan adanya estafet generasi untuk melanjutkan pekerjaan yang belum selesai. Uji ketahanan dan keampuhan konsep, tidak bisa dilihat dengan isti’jal atau terburu-buru. Maka sebaiknya diberikan jangka waktu yang pas. Cara, bisa berganti-ganti, tapi konsep, sebaiknya tidak sering berganti. Membuat Repelita.

Sayangnya, laporan pertanggung jawaban itu seringkali hanya dibuat sebagai formalitas dan tidak dibaca atau diperhatikan oleh generasi penerus. Memulai lagi dari nol. Adalah masalah klassik. Tidak pernah terselesaikan. Berganti kepengurusan, berganti pula target, dan kebijakan. Berubah-ubah sesuai isi kepala, jangkauan wawasan dan dalamnya pemahaman masing-masing generasi. Sedangkan waktu terus berputar. Setiap generasi, bisa saja mengklaim konsepnya adalah yang lebih baik. Jika demikian halnya, maka kapankah bangunan dakwah ini akan berdiri kokoh. Kapankah kereta dakwah ini akan bergerak menuju tempat tujuan. Syuro dan syuro. Kapankah waktu untuk action ?

Dakwah itu harus fleksibel. Sesuai medan. Dakwah di kampus, yang notabene hanya untuk 4 tahun masa kuliah, digunakan konsep yang sesuai kampus. Input bahan baku di tahun pertama. Proses. Dan setelah tahun keempat, sudah ada out put alumni kampus yang berafiliasi kepada Islam. Yang akan masuk ke medan selanjutnya. Masyarakat.

Arsitek dakwah.

(Ngga Nyambung :p)

By syahdan, 1 August 2007, 14:03 o'clock

Sesak hati ini. Persepsi itu sudah menjamuri sebagian besar kepala masyarakat indonesia bahkan dunia saat ini. berislam dengan Khaaffah saat ini sudah merupakan barang yang terkadang dianggap aneh. Media massa yang “konvensional” segaja membesar-besarkan bahkan terang-terangan melebih-lebihkan berita. padahal mereka juga beragama Islam, agama yang seharusnya mereka bela dengan sepenuh hati. Media–yang disesaki oleh orang-orang konvensional–sekarang sudah terbiasa menyajikan berita-berita tetang teroris-teroris yang meresahkan masyarakat. kalau memang disajikan berdasarkan fakta dilapangan ya memang sewajarnya dan memang sudah seharusnya. namun pada kenyataannya berita-berita tersebut kadang terkesan menyudutkan umat Islam.

Memangnya ada yang salah kalau kami berjenggot semata-mata mengikuti sunnah Rosulullah SAW. Padahal banyak dibelahan dunia sana yang berjenggot menjadi rahib namun tak pernah tersentuh hujatan. Memangnya ada yang aneh kalau akhwat-akhwat kami menjulurkan jilbab yang lebar menutupi dada dalam rangka menjalankan perintah langsung dari Yang Maha Kuasa. Padahal para biarawati menggunakannya juga namun tidak pernah ada yang memprotes keras.

Berusaha berislam dengan baik kadang senantiasa dianggap fanatisme pada sebuah golongan atau partai. Padahal itu semua hanyalah wajihah (sarana) kami dalam menggapai ridhoNya. Ada pengalaman seorang pemuda yang dulu bergelimang dosa dan sekarang sudah menjadi aktivis da’wah setelah mengenal tarbiyah. tanggapan dari teman-teman semasa “jahiliyah” dulu sangat tidak mengenakkan hatinya. Mereka masih saja mempermasalahkan jenggot=teroris. Masalah isi kepala yang konvensional.

Bisa kita lihat dari hal-hal tersebut bahwa PR kita masih banyak, sedangkan waktu yang tersedia sangat terbatas. Masih bisakah kita tidur nyenyak padahal ada saudara-saudara kita dibelahan dunia sana yang tidak bisa tidur karena diselimuti ketakutan. Setujukah kita dengan apa yang dikatakan The guardian (surat kabar inggris) yang menulis bahwa Bush mengatakan “Terorisme (Islam)” sebagai ancaman, dengan apa yang dilakukan Hitler yang menyatakan komunis sebagai ancaman bagi keamanan bangsanya.

Masih bisakah lidah kita berkata-kata? Tegaskan bahwa “Kami Bukan Teroris”. (DAI)

By al_ichsan, 24 June 2007, 21:35 o'clock

Alhamdulillah, kalimat yang terucap ketika saya mendengar anak-anak pengajian Rohis kelas 3 di SMA saya lulus semua. Semoga kelulusan mereka dapat memberikan nilai tambah bagi agama, keluarga, bangsa, dan negara.

Kalau melihat siaran di beberapa TV, ada beragam cara yang dilakukan siswa SMA untuk mengekspresikan kelulusan mereka. Ada yang mencorat-coret seragam mereka, ada yang konvoi dengan motor, dan lain-lain. Ada juga yang mengekspresikan kelulusannya dengan menyumbangkan seragam mereka untuk anak-anak yatim atau untuk yang membutuhkan (misalnya orang-orang miskin). Ada yang sujud syukur. Ada pula yang bersalam-salaman dengan guru dengan berbaris rapi seraya terharu karena kelulusan mereka. Yang disebut terakhir ini di justru dicontohkan oleh siswa-siswi sebuah SD di Jakarta. Semestinya cara ini dilakukan oleh SMA yang notabene secara usia lebih dewasa. Untuk menyalurkan ekspresi kegembiraan mereka, para guru menyediakan kain panjang untuk corat-coret, daripada corat-coret di baju seragam.

Nah, bagaimana supaya kelulusan kita menjadi penuh makna? Yang pasti, kelulusan yang prosesnya diwarnai dengan kecurangan adalah kelulusan yang tidak bermakna, penuh kepalsuan.

Menurut saya, kelulusan yang penuh makna adalah kelulusan yang diisi dengan kegiatan positif dan jauh dari kegiatan yang sifatnya mubazir. Menyumbangkan seragam yang sudah tidak terpakai ke orang yang membutuhkan, itu adalah salah satu contohnya. Memberikan ucapan terima kasih ke guru, itu juga positif, minimal menjabat tangannya. Begitu pula terhadap orangtua kita, harus memberikan ucapan terima kasih, kalau perlu kasih hadiah. Terhadap sesama teman, saling memberikan selamat, dan mengupdate nomor kontak, karena ada kelulusan biasanya diikuti dengan perpisahan. Jadi nomor kontak ini agar kita bisa saling komunikasi menjalin ukhuwah walau jarak berjauhan. Dan yang paling penting, bersyukur kepada Allah atas kelulusan. Sujud syukur adalah salah satu bentuknya. Atau banyak-banyak memberikan sedekah. Bentuk syukur lainnya adalah berupaya semaksimal mungkin untuk lolos ujian saringan masuk ke perguruan tinggi (bila ingin meneruskan ke perguruan tinggi). Jadi, lulus bukan berarti berhenti belajar, karena ada ujian berikutnya.

Yang jelas, masih ada banyak cara yang positif agar kelulusan kita bermakna, ketimbang dengan mencorat-coret seragam, konvoi motor, atau hura-hura.

Harapan terakhir, semoga kita semua lulus di akhirat nanti dengan ditandai masuknya kita ke dalam Jannah-Nya… Aamiiin…

By hendra, 17 June 2007, 00:38 o'clock

Dakwah di kalangan mahasiswa pasti penuh dengan dinamika. Tentu saja, karena mahasiswa adalah pemuda, ADK-nya pemuda, objek dakwahnya sebagian besar pemuda, semuanya masih pemuda. Pemuda itu penuh semangat, enerjik, gesit, ada jiwa perlawanan, dan sebagainya.

Nah, ada kalanya mungkin dakwah di kampus akan bergesekan dengan elemen lain yang ada di kampus lain. Tentu membutuhkan kedewasaan ADK dalam bersikap. Berkaitan dengan hal ini, ada satu hal yang harus kita ingat, bahwa kita sejatinya adalah generasi yang proaktif, bukan generasi yang reaktif. Yang proaktif berarti penuh inisiatif, punya tujuan yang ingin dicapai, punya perencanaan untuk mencapai tujuan, disiplin dalam menjalankan segala rencana-rencananya, dan seterusnya. Sedangkan yang reaktif adalah mereka yang tidak punya pendirian, mudah goyah, suka lupa dengan tujuannya, suka melupakan rencana-rencana yang sudah disusun, dan mudah dikontrol oleh pihak lain.

Benturan atau gesekan sebisa mungkin harus kita hindari. Namun jika ada gesekan atau provokasi yang dilontarkan dari pihak luar, maka kita jangan menjadi orang yang reaktif. Waspada itu perlu, tapi reaktif berlebihan tidak ada faedahnya. Justru lebih banyak membuyarkan agenda-agenda yang sudah disusun. Apalagi kalau reaktif sampai menuduh kepada pihak yang memprovokasi itu dengan tuduhan yang tidak-tidak, maka apa bedanya kita dengan mereka yang suka mengolok-olok. Biarkan saja mereka provokasi, karena bisa jadi mereka adalah golongan orang-orang yang belum pernah kita dakwahkan, sehingga mereka berbuat seperti itu. Apalagi kita adalah da’i, bukan hakim.

So bro ‘n sis, tetap teruskan agenda-agenda dakwah. Tidak perlu mudah terbawa arus provokasi-provokasi mereka yang tanpa makna.

By hendra, 27 May 2007, 17:03 o'clock

Akh dan Ukh, tepatnya :). Pernah dengar hadist tentang para pencari ilmu? Di Buku 1100 Hadits, bunyinya seperti ini, ““Janganlah kalian menuntut ilmu untuk membanggakannya terhadap para ulama dan untuk diperdebatkan di kalangan orang-orang bodoh dan buruk perangainya. Jangan pula menuntut ilmu untuk penampilan dalam majelis (pertemuan atau rapat) dan untuk menarik perhatian orang-orang kepadamu. Barangsiapa seperti itu maka baginya neraka… neraka” (H.R. Tirmidzi dan Ibnu Majah). Ini adalah peringatan yang cukup keras bagi para pencari ilmu Allah, ilmu agama.

Di masa sekarang, sudah menjadi hal yang lumrah alias bukan aneh lagi bila seorang aktivis dakwah menjadi Menthor atau Murabbi. Berbagai tips n trik, dauroh2 untuk menjadi Menthor/Murabbi yang berkualitas, digunakan. Termasuk dalam hal “meningkatkan ilmu”. Tentu saja, bagaimana mungkin seorang Menthor/Murabbi akan memberi sesuatu kepada binaannya, jika dia sendiri tidak memiliki sesuatu?

Memiliki, mencari dan mengamalkan ilmu adalah ruang lingkup sebuah majelis. Perubahan. Itu intinya. Jadi, sudah sewajarnya jika para Menthor/Murabbi harus senantiasa meningkatkan ilmunya. Ini tentu kesadaran yang bagus. Tetapi alangkah ruginya bila menambah atau meningkatkan ilmu, hanya dalam rangka agar “binaan agak segan” atau “terpesona” karena MR nya fasih berbahasa Arab atau juga hafal beberapa hadits favorit.

Oleh karena itu, harus pakai hati dong ketika menyampaikan ilmu dalam majelis…:) Berlatih itu perlu, tapi tidak perlu sampai ber “make-up” tebal. Apa adanya saja. Alami. Jangan hanya untuk berpenampilan dalam majelis. Karena hati hanya bisa disentuh dengan hati. Gunakan hati, bahwa kita menyampaikan ilmu agama itu karena Allah SWT, karena kesadaran kita sebagai seseorang yang harus senantiasa mencari ilmu untuk memperbaiki masyarakat dan terutama diri kita sendiri. :) Jika tidak, bisa2 bukan surga yang di dapat, tetapi “neraka…neraka.”.

(Ga Nyambung)

By syahdan, 27 May 2007, 13:23 o'clock

Wah judul yang bisa jadi kontroversial nih, kayak artis aja. Yupz, cinta… Pasti memakai hati kalo bicara tentang hal yang satu ini. Lima huruf itu yang bisa membuat seorang ikhwan atau pun akhwat menggelepar-gelepar tak tertahankan. Apalagi kalau tidak bisa disalurkan pada tempat yang semestinya. Bisa membuat pusing tujuh puluh keliling kalo dipendam sendiri. Atau bisa menghasilkan rindu yang tidak tertahankan bila terlalu jauh jarak…

Ups..!! STOP..!! Ntar dulu… Ini kita lagi membicarakan cinta yang mana? Yang level Halal… Yang level menengah… Atau bahkan yang level hina… Mari kita jabarkan satu persatu.

Cinta yang halal dan tertinggi jelas-jelas hanya untuk Allah dan Rosulnya, tiada yang lain. Kecintaan yang begitu mendalam dari seorang hamba terhadap Robb-nya akan menghasilkan sebuah energi yang sangat dahsyat yang berimbas pada meningkatnya kualitas keimanannya. Cinta tersebut akan menghasilkan jiwa-jiwa yang pantang menyerah dan rela berkorban. Allah mencintai hambanya yang mencintainya. Allah dekat dengan hambanya yang senantiasa berusaha dekat dengannya. Cinta tersebut akan menimbulkan kesadaran dalam diri hambanya bahwa hidup ini hanyalah untuk mencintai dan merefleksikan cintanya kepada-Nya dengan bentuk ibadah.

Cinta yang level menengah adalah mencintai keluarga, saudara seiman, dan sesama makhluk hidup. Keluarga adalah orang-orang yang terdekat dengan kita, tempat kita pertama kali bertemu dan berkumpul. Ibu dan Ayah merupakan orang-orang yang sangat berjasa dalam kehidupan kita. Ada seorang sahabat bertanya kepada Rosululloh SAW; “Siapakah orang yang harus aku hormati setelah Allah dan Engkau ya Rosul?” lalu Rosul menjawab “Ibumu” sampai tiga kali, lalu setelah itu Rosul menjawab “Ayahmu”. Dengan adanya hadits ini jelaslah bahwa berbakti kepada orang tua adalah suatu keharusan. Menuruti perintahnya atau bahkan tidak mengatakan “Ah..!!” ketika kita disuruh. Menjaga perasaan keduanya seperti kita tidak ingin ada seseorang yang menyakiti hati kita. Sungguh-sungguh tidak ada yang bisa kita perbuat untuk membalas jasa mereka, yang kita bisa lakukan terbaik adalah berbakti kepada mereka dengan sepenuh hati. Memperlakukan mereka seperti yang Allah dan Rosul perintahkan.

Cinta yang ketiga adalah cinta yang hina. Kenapa bisa dikatakan hina dan rendah, karena cinta ini menyebabkan kita lupa akan Allah dan membuat kita melanggar aturan-aturan yang telah Allah tetapkan. Banyak sekali contoh yang bisa kita dapatkan dari kehidupan sekarang. Salah satunya adalah cinta kepada lawan jenis yang tidak tertahankan. Mungkin kalau lingkupnya adalah masyarakat muda-mudi di Indonesia dan dunia sudah bisa kita lihat dengan jelas dan tidak perlu lagi ada penjelasan disini. Yang ingin saya tekankan disini adalah beberapa kasus yang menimpa aktivis-aktivis yang dulunya memiliki tingkat militansi dan penjagaan hijab yang tinggi, namun sekarang mengendur dan mencair bahkan bercampur.

Fenomena di lapangan banyak ikhwah yang lepas kendali maupun tarbiyahnya hanya karena masalah yang sebenarnya mereka sudah fahami bahwa hal ini TIDAK BOLEH. Mengendurkan hijab hanya karena takut semakin bertambahnya umur namun belum jua mendapatkan jodoh. Atau berusaha memberikan SINYAL-SINYAL kepada lawan jenis dengan maksud untuk dilihat dan dipertimbangkan kehadirannya. Kenapa bisa begini??? Setelah keluar kampus malah menjadi seseorang yang ahli sms romantis, ahli telepon berdalih da’wah, atau bahkan ahli berlama-lama bersolek diri.

Kawan, sudah saatnya dan bahkan sudah seharusnya kita selalu berbenah diri. Allah telah menjanjikan bahwa wanita yang baik akan mendapatkan lelaki yang baik pula, begitupun sebaiknya. Namun percayakah kita akan janji Allah tersebut? Sudah Khusnudzonkah kita kepada Allah? Tidak perlu dijawab dengan untaian kata-kata, tunjukkan dengan sikap dan perbuatanmu.
Wallohua’lam bishowab… (DAI)

.:.:.Setiap Masalah Pasti Ada Jalan Keluarnya.:.:.
-Dalam Gelapnya Malam Kita Bisa Melihat Indahnya Bintang-

By al_ichsan, 24 May 2007, 23:35 o'clock

Berbicara tentang pergantian pengurus, khususnya masalah kepemimpinan dalam sebuah organisasi Islam, tentu tidak bisa lepas dari yang namanya “kualifikasi”. Qiyadah seperti apakah yang seharusnya dipilih, dan bagaimana pula kualifikasi personel intinya yang notabene akan menempati pos-pos tertentu sebagai Kadept atau Sekdept.

Dalam organisasi dakwah, semua sayap itu, penting. Lha wong, seorang wanita tua tukang sapu di masjid saja, diperhatikan oleh Rasulullah SAW. Masih ingat kan kisahnya ? :) . Tapi titik berat, fokus, setiap kepengurusan, bisa berbeda2. Hanya satu yang tidak akan pernah hilang oleh masa adalah tentang kaderisasi. Karena di sini adalah pos untuk melahirkan generasi Rabbani yang produktif. Oleh karena itu, terkadang banyak orang yang harus bermain di sini. Karena berat banget sih :) . Orang kaderisasi kan juga manusia, terkadang bisa keder juga. Oleh karena itu back up nya berlapis-lapis. Jangan sampai berubah jadi Kederisasi. :)

Setiap organisasi, pasti telah memiliki kualifikasi sendiri untuk menempatkan personel di masing-masing pos. Misalnya, yang hobby nya adu argumen, pinter tips and trik, jago nego, mungkin bisa masuk sayap tertentu. Diolah. Supaya matang. Jangan sampai setengah matang. Nanti, bisa hidup segan, mati tak mau. Ini ikhwah apa bukan ya. Kok luntur. :) . Disesuaikan dengan muyul. Tapi ini sulit juga, karena terkadang seorang kader, tidak tahu muyulnya apa. Akhirnya terjun bebas ke pos tertentu. Tidak menguasai medan. Akhirnya amburadul. Inilah pentingnya musyawarah untuk menempatkan seseorang. Musyawarah dua arah, tim yang akan menempatkan dan personel yang akan ditempatkan. Oleh karena itu database kaderisasi, seharusnya lengkap ya…

Organisasi dakwah, tentu tujuan utamanya adalah berdakwah. Mengajak manusia kepada Islam. Maka, tentu saja idealnya personel intinya, harus sudah siap untuk berdakwah. Pribadi da’i. Setiap kampus memang tidak sama. Ada yang tingkatnya masuk kategori A, B, C, atau dst. Tergantung sudah masuk tingkat kampus apa.

Di dalam Islam, menjadi seorang pemimpin itu, tidak mudah. Baik menjadi Ketum, Kaput, Kadept, Sekdept, dst. Karena seperti ucapan Aa Gym, “Hati, hanya bisa disentuh oleh hati.” Bagaimana mungkin akan berdakwah, bila ternyata sang qiyadah, selama ini tidak pernah shalat malam. Dan aneh juga, tim eksekusinya sudah tahu tidak pernah shalat malam, masih bisa dipilih jadi qiyadah organisasi dakwah (geleng2 -red). Ini realita di lapangan! Jadi kualifikasi terpilihnya itu karena apa ? Hm, ternyata masih berpatok pada metode duniawi. Karena IPK tinggi, asdos, ganteng/cantik, lumayan jago komunikasi. Lalu kualifikasi muwashofat primernya tertinggal.. Atau ditinggal.

Tentara Islam pernah dipimpin oleh seorang budak hitam legam. Ketika tentara Islam yang dipimpin oleh budak hitam itu, datang menemui Raja non muslim, sang Raja segera bergidik ketakutan, jijik dan berkata, “Siapa orang ini? Aku tidak mau berbicara dengannya. Kulitnya hitam legam. Ganti dengan yang lain.” Tapi tentara muslim segera menjawab, “Dia adalah pemimpin kami. Dia adalah orang yang paling bertaqwa di antara kami. ”

Kita boleh2 saja memilih yang mendekati sempurna. Tapi jangan dibalik. Karena masalah akidah dan ibadah adalah kualifikasi primer. Pernah ada di lapangan, sang pemimpin terpilih adalah yang masih mengakui Pancasila sebagai dasar negara. Hm… Hilang kemana ya kualifikasi untuk sebuah organisasi yang berlabel dakwah. Mungkin kurang kader ya. Ya banyak faktor yang mempengaruhi. Perlu kajian tersendiri. Dan kondisi setiap kampus tentu berbeda2. Tapi yang jelas, memilih pemimpin dan personelnya, jangan cuma yang.. yang… di atas aja dong, tapi juga muwashofat primernya di check!

Sebuah organisasi dakwah hanya akan sukes bila pemimpinnya bertaqwa, dekat pada Allah SWT. Bila sang qiyadah dirahmati-Nya, diberikan bashirah, maka dapat mengambil keputusan tepat meski di saat genting. Seperti Umar bin Khattab yang bisa melihat peperangan dari dari tempat khutbahnya dan berteriak, “Wahai tentara Muslim, di belakang kalian.. di belakang kalian… “. Dan para tentara muslim yang tengah berperang di tempat lain, dapat mendengar suara sang qiyadah. Jadi, jundi juga harus bertaqwa, supaya bisa “mendengar suara qiyadahnya”. Ingat, check dan ricek muwashofat primer!

(Ga Nyambung)

By syahdan, 15 February 2007, 11:10 o'clock

Biasanya yang kita baca dari judul sebuah buku adalah “From Zero To Hero”. Tapi bukan tidak mungkin, para da’i yang semula memang dari Zero to Hero, lalu berubah menjadi Hero to Zero. Yang semula bertahan hijrah ke jalan kebenaran. Eh, berbalik hijrah ke jalan kejahiliyahan. Karena, siapa sih yang bisa mengetahui, bahwa kita akan menjadi muslim selamanya sampai mati atau menjadi aktivis dakwah selamanya. Ali bin Abi Thalib yang termasuk 10 sahabat yang dijamin masuk surga, selalu gelisah tidak tenang, karena dirinya pun tidak mengetahui, apakah akan bisa mati dalam keadaan muslim atau tidak. Nah, apatah lagi kita, yang tidak dijamin masuk surga. Masih bisa merasa aman ? :)

Apa yang bisa menyebabkan Hero ini menjadi Zero ? Yang pasti dan sudah tidak bisa ditawar lagi adalah mulai lepasnya ikatan hati, lepasnya ketergantungan hati kepada Allah SWT. Mulai melirik-lirik dunia, tidak lagi takut mati. Orientasi hidupnya sudah mulai bergeser. Sedikit demi sedikit. Setahap demi setahap. Persis langkah-langkah syetan. Atau menurut bahasa agama, terkena penyakit Wahn, cinta dunia dan takut mati. Dan hati-hati, Wahn ini ganas, bisa menyerang siapa saja. Kecuali hamba-hamba Allah yang mukhlis.

Hubbud dunya bagi setiap manusia tentu berbeda-beda. Diuji sesuai keimanannya. Diuji sesuai dengan apa yang paling dicintainya, yang paling diharapkannya, yang paling dicita-citakannya. Jadi renungkan saja di diri masing2 :). Dan khusyuk itu sangatlah sulit, kecuali bagi orang2 beriman yang memang telah Allah SWT teguhkan hatinya.

Dalam suatu kesempatan seorang sahabat Nabi SAW yang bernama Ibnu Mas’ud ra bertanya kepada Nabi SAW:
Ya Nabi SAW, amalan apa yang paling disukai Allah SWT ? Nabi SAW menjawab,
“Sholat tepat pada waktunya”.
Ibnu Mas’ud bertanya lagi, ” kemudian apa lagi ?”.
Rasulullah SAW menjawab “berbakti kepada orang tua”.
Ibnu mas’ud bertanya lagi,
“kemudian apa lagi ya Rasulullah ?”.
Rasulullah SAW menjawab “Berjihad di jalan Allah”.
Hadist diriwayatkan oleh mutafaqalaih

Dengan melihat urutan jawaban dari RAsulullah SAW, maka kita dapat mengetahui bahwa,
Yang pertama, adalah tentang ibadah yang terkait erat dengan akidah. Kenapa ibadah shalat? Karena Shalat adalah pembeda antara muslim dan kafir. Antara mu’min dan munafiq.
Yang kedua, adalah tentang akhlak. Kenapa akhlak kepada orang tua? Karena orang tua adalah manusia yang paling berjasa besar dalam hidup kita. JAdi kalau dengan orang tua saja, tidak bisa membalas jasa, tidak bisa berbakti, tidak bisa berakhlak baik, maka apatah lagi kepada manusia lainnya yang notabene tidak akan pernah bisa meraih jasa seperti orang tua kita.
Yang terakhir, barulah berjihad. Yang di dalamnya tentu ada unsur dakwah, memperjuangkan dan membela agama Allah.

Jadi, kalau kita mengaku aktivis dakwah, tapi ibadahnya tidak karuan, akhlaknya buruk, maka sebenarnya kita termasuk manusia yang tertipu, ghurur. Panjang angan-angan. Dan jangan harap bisa bertahan lama di jalan dakwah dan jihad.

Inilah pentingnya berjamaah, pentingnya bergaul dengan orang-orang sholeh. Seperti cermin. Ada yang mengingatkan, ada yang menasehati, dst. Dan hamba Allah SWT itu, bukanlah yang tidak pernah berbuat salah dan dosa. Tapi hamba Allah SWT itu adalah yang ketika ia berbuat dosa, ia segera sadar dan memohon ampun kepada Allah SWT.

Jadi, ingat…, ingat…, jangan coba-coba melirik dunia karena jika sudah terkena, akan sulit untuk kembali menjadi Hero, kecuali atas izin Allah SWT. Dzat Yang Maha membolak-balikkan hati. “Wahai Dzat Yang Maha membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agamaMu.” (HR. Tirmidzi, hasan).

Ingat, waspadalah! Waspadalah! (Seperti di acara TV :) )

(Ga Nyambung)

By syahdan, 3 February 2007, 16:21 o'clock