Hudzaifah Trisakti - "Sebarkan salam, sebarkan cinta," begitu slogan yang tertulis di situs Iwan Fals, salah seorang penyanyi di Indonesia. "Salam perdamaian," demikian pula yang sering dikatakan oleh sebagian orang-orang barat, padahal mereka hobbynya perang loh. Atau bagi yang suka nonton film fiksi alien, biasanya ketika jagoan mau menghadapi alien, mereka mengoceh dahulu, "we come in peace", kami datang dengan damai.
Hudzaifah Trisakti - "Sebarkan salam, sebarkan cinta," begitu slogan yang tertulis di situs Iwan Fals, salah seorang penyanyi di Indonesia. "Salam perdamaian," demikian pula yang sering dikatakan oleh sebagian orang-orang barat, padahal mereka hobbynya perang loh. Atau bagi yang suka nonton film fiksi alien, biasanya ketika jagoan mau menghadapi alien, mereka mengoceh dahulu, "we come in peace", kami datang dengan damai. Loh, kok sampai ke alien? Iya, ke alien aja mereka menyapa dengan begitu "sopan"nya, masa' kepada manusia justru sebaliknya. 
Kini dalam pergaulan anak muda, biasa kita temui ucapan "hai", "hoi", "hey", atau bentuk sapaan singkat lainnya, singkat dan tidak bermakna. Kadang ada juga yang menambahkannya dengan julukan, misalnya "hey botak", atau "eh, item keling, sini kamu". Kasar ya?
Sekarang di saat musim mahasiswa baru, telinga kita akan akrab dengan suara misteri "permisi kaaak", diucapkan dengan wajah senyum, ada yang senyumnya terpaksa, ada yang memang smiling face, ada juga yang tidak jelas, ini senyum atau lagi stress. Kalau tidak mengucapkan permisi, biasanya otomatis ada suara misteri lainnya, "Hoi botak, mana permisinya??!!" Wah, lengkap deh penderitaan.
Di tempat lain, ada juga bentuk sapaan "Selamat pagi.. selamat sore.. malam... dsb." Loh, kok bisa seperti itu? Iya, mereka biasanya beralasan karena ini kan memang sudah zamannya, zaman modern, atau memang sudah dari sananya.
Bisa jadi mereka yang sering mengucapkan "hai" hanya karena sekedar ikut-ikutan, karena melihat teman, melihat senior, tanpa tahu ilmunya. Ada juga yang terpaksa karena kondisi lingkungannya. Hhhmm.. kalau benar begini, gawat namanya. Kita ‘kan mahasiswa, generasi muda intelektual, setiap tindakan dan perilaku harus bisa dipertanggungjawabkan. Coba deh buktikan nanti kalau ada yang ambil skripsi, setiap jengkal kata yang ada pada skripsi kita, semuanya harus bisa dipertanggungjawabkan. Kalau tidak, bakal mati kutu kita, karena tidak bisa menjawab pertanyaan dosen penguji. Loh kok jadi sampai ke skripsi sih? Iya nih, maaf, soalnya sang penulis sedang skripsi, doain ya.. Jazakumullah khair.. 
Mau tahu ilmunya tentang tegur sapa dalam pergaulan? Nah, sudah ada tuh. Bahkan ilmunya sudah ada semenjak ribuan tahun silam, sekitar 14 abad lampau sebelum alien diciptakan oleh sutradaranya, sebelum Iwan Fals lahir, dan sebelum Barat punya slogan "peace". Dalam hal tegur sapa, Islam sudah ada aturan mainnya. Coba deh lihat ayat Al Qur’an ini:
"Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah: "Salaamun alaikum." (QS. Al An’am: 54)
Jelas ‘kan? Bila kita bertemu dengan sesama muslim, maka ucapkanlah "Assalamu’alaikum" yang artinya "mudah-mudahan Allah melimpahkan kesejahteraan atas kamu". Tidak memandang posisinya, apakah dia senior, junior, teman satu angkatan, dosen, assisten, karyawan, dan sebagainya, yang penting dia muslim. Semuanya disapa dengan kalimat yang sama, yang indah, penuh kedamaian dan penghormatan. Cuma itu? Ooo, bukan cuma itu, ada lagi nih:
"Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu." (QS. An Nisaa: 86).
Penghormatan dalam Islam ialah dengan mengucapkan "Assalamu'alaikum". Buat kita yang diberi salam oleh teman, maka kita harus membalasnya dengan salam pula "Wa’alaikumsalam". Lebih baik lagi dengan "Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh". Dan ingat, salam adalah do’a. Ini dia yang dimaksud oleh Aa Gym, penceramah terkenal di Indonesia, ketika kita mengucapkan salam dihadapan orang banyak, maka doa akan mengalir kepada kita berupa salam balik. Inilah indahnya pergaulan dalam Islam, ketika bertemu teman, kita mendoakan dia dengan salam, lalu dibalas pula dengan doa juga berupa salam balik. Coba deh kamu buktikan sendiri. 
Menariknya, dalam menebarkan salam ini, Islam juga mengaturnya lebih rinci. Contohnya dalam hadits Rasulullah SAW,
"Dari Abu Hurairah Ra, Rasulullah SAW bersabda, "Yang berkendaraan lebih dahulu mengucapkan salam kepada yang berjalan kaki; yang berjalan kaki mengucapkan salam kepada yang duduk, dan rombongan yang sedikit mengucapkan salam kepada rombongan yang banyak." (HR. Muslim)
Lalu bagaimana jika ada non-muslim yang mengucapkan salam kepada kita? Apakah kita harus menjawabnya? Tenang.. Hal ini juga sudah diatur dalam Islam. Karena ada hadits yang berbunyi, "Sahabat Anas RA berkata, "Kami disuruh oleh Rasulullah SAW agar jawaban kami tidak lebih daripada ‘wa’alaikum’." (HR. Adaunuri).
Maksud hadits di atas, apabila ada non-muslim yang memberi salam kepada kita, maka jawabannya tidak boleh lebih dari ‘wa’alaikum’ yang kurang lebih artinya, "Dan juga bagimu".
Tapi bosen ah, masa’ kita harus ucapkan salam terus, ‘kan kepanjangan kalimatnya, terus belum terbiasa lagi. Jangan-jangan sebelum selesai mengucapkan salam, calon lawan bicara kita sudah kabur karena kelamaan.
Eeh.. tidak boleh begitu, jangan meremehkan hal baik sekecil apapun. Ingat loh, Allah ‘kan memperhitungkan segala sesuatu. Coba deh kamu lihat lagi ayat Al Qur’an sebelumnya di bagian akhir. Rasulullah SAW sendiri berpesan kepada kita melalui sabdanya, "Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman, dan kalian tidak beriman hingga kalian saling mencinta. Maukah aku tunjukkan sesuatu yang apabila kalian lakukan niscaya kalian akan saling mencinta? Sebarkan salam diantara kalian (HR. Muslim).
Salam dapat mempererat ukhuwah Islamiyah, menjalin tali silaturahmi. Yang tadinya tidak kenal, menjadi kenal. Yang tadinya sudah saling mengenal, menjadi tambah akrab insya Allah. Dan satu lagi, di surga nanti, salam merupakan salah satu nikmat yang dirasakan oleh para penghuninya. Allah sendiri yang menjanjikannya dalam ayat,
"Mereka tidak mendengar perkataan yang tak berguna di dalam syurga, kecuali ucapan salam. Bagi mereka rezkinya di syurga itu tiap-tiap pagi dan petang." (QS. Maryam: 62)
Indah bukan? Sekarang kita sudah paham, bahwa salam bukan hanya budayanya Pak Haji atau Bu Haji, tapi merupakan tuntunan untuk seluruh umat Islam. Dan kita paham bahwa salam bukan suatu hal yang ketinggalan zaman, justru inilah salah satu tata pergaulan yang sebenarnya. Selain itu, dengan "salam" ini mencerminkan bahwa Islam adalah agama yang penuh kedamaian, bukan kekerasan. Setuju? Kalau begitu tunggu apa lagi, mulailah detik ini juga untuk memberi salam kepada yang kita temui. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. (hdn)
___
by Hendra