|
|
|
| Kajian |
[1796 Reads]  |
|
18 Prinsip Efektifitas Da’wah (Bag-2) |
Posted by: admin on Tuesday, January 01, 2008 - 12:00
|
Hudzaifah.org - Dalam sebuah pelatihannya, Mark Plus merumuskan 18 prinsip pemasaran di era globalisasi yang dibingkai dalam Surviving and Winning in The Global Environment. Pada artikel bagian ke-1, telah dibahas point ke-1 sampai dengan point ke-9. Berikut ini adalah kelanjutannya, selamat membaca.
Prinsip 10 : Segmentation: View Your Market Creatively (segmentasi: pandanglah pasar Anda secara kreatif).
Segmentasikan pasar Anda untuk menemukan potensi tersembunyi yang tidak dilihat pesaing Anda. Sebagaimana prinsip dakwah kelima khaatibunnaasa ‘ala qadri ‘uqulihim, maka setiap juru da’wah harus memandang audiensinya secara kreatif. Hal ini berkaitan dengan metode dan materi da’wah yang akan disampaikan. Untuk anak-anak misalkan, metode yang paling cocok adalah bercerita.
Prinsip 11 : Targeting: Allocate Your Resources Effectively (sasaran: alokasikan sumberdaya Anda secara efektif).
Jangan menembak lalat dengan bom. Lalatnya memang mati, tapi sumberdaya Anda terbuang percuma. Takarlah kekuatan Anda untuk segmen pasar yang Anda bidik dengan akurat.
Begitu pun dalam berdakwah. Setiap juru dakwah mestinya memahami fiqh awlawiyat (fikih prioritas) dan fiqh muwazanat (fikih timbangan). Dengan memahami kedua fikih ini, setiap juru dakwah dapat memilih dan memilah. Mana yang didahulukan, mana yang diakhirkan. Mana yang pertama, kedua, dan seterusnya. Mana yang harus diselesaikan sekarang, mana yang terpaksa harus ditunda. Kemudian, setelah mampu memilah dan memilih, aloksikanlah sumberdaya yang anda miliki secara efektif untuk memperoleh hasil yang maksimal. Tidak mesti seorang juru dakwah menangani semua audiens, dari mulai yang kecil sampai yang sepuh, dari yang TK sampai yang doktor, meskipun ia mudah beradaptasi dengan semua lapisan masyarakat.
Prinsip 12 : Positioning: Lead Your Costumer Credibly (positioning: arahkan pelanggan Anda agar memberikan kredibiltas kepada Anda).
Menempatkan diri Anda di benak konsumen adalah hal mudah. Namun, memposisikan diri untuk dipercaya konsumen Anda bukanlah urusan mudah, kredibilitas perusahaan Anda adalah kuncinya.
Agar dipercaya dan dijadikan rujukan oleh masyarakat, kita harus memiliki kredibilitas; kredibilitas moral, intelektual, operasional, sosial dan politik. Juru dakwah yang hanya memiliki kredibilitas moral akan mudah dikooptasi dan diperdaya oleh orang lain. Selain itu, mereka juga kurang tanggap terhadap perkembangan aktual yang biasanya membutuhkan daya analisis yang tajam. Karenanya setiap juru dakwah sebisa mungkin berupaya untuk melengkapi dan menyempurnakan kredibilitas-kredibilitas di atas, agar masyarakat yang menjadi audiens dapat menerima keberadaannya.
Prinsip 13 : Differentiation: Integrate Your Content-Context-Infrastructure.
Memadukan apa dengan bagaimana Anda menawarkan produk kepada konsumen adalah masalah krusial. Apalagi jika harus diselaraskan dengan teknologi dan fasilitas pendukung perusahaan Anda. Jadi, kalau positioning adalah janji, differentiation adalah kongkretnya. Kalau sebuah perusahaan melakukan diferensiasi, artinya perusahaan tersebut menghasilkan produk lebih dari satu macam. Ini dilakukan untuk menjaga penurunan omzet penjualan produk lama yang mungkin saja mulai ditinggalkan penggemarnya.
Era global akan mendorong orang untuk lebih memahami detail ketimbang makro, spesialisasi daripada general. Pada akhirnya medan dakwah pun akan menuntut demikian. Seorang juru dakwah akan lebih efektif apabila memanfaatkan spesialisasinya masing-masing. Mereka yang cenderung pada kesenian, lebih efektif berdakwah di bidang seni, demikian seterusnya.
Prinsip 14 : Marketing Mix: Intergrate Your Offer-Logistics-Communication.
Produk, harga, saluran distribusi, dan promosi harus memperkuat strategi. Menciptakan sinergi antara elemen bauran pemasaran ini dengan strategi secara keseluruhan perusahaan adalah kompleks, tapi menghasilkan kekuatan yang dahsyat.
Prinsip ini berkaitan erat dengan metode penyampaian atau pola komunikasi dakwah untuk mencapai efektifitas. Dalam ilmu komunikasi kita mengenal SMCR (source/narasumber, massage/pesan, canal/saluran komunikasi, dan receiver/penerima, audiens). Siapa yang menyampaikan (source), apa yang akan disampaikan (massage), bagaimana menyampaikannya (canal), kepada siapa (receiver). Memadukan elemen-elemen di atas lalu menyelaraskannya dengan tujuan da’wah itu sendiri akan menghasilkan sinergisitas yang sangat kuat.
Prinsip 15 : Selling: Integrate Your Costumer-Company-Relationship (penjualan: memadukan hubungan yang kuat antara pelanggan Anda dengan perusahaan).
Pada tingkat kompetisi yang semakin meningkat, menjual bukanlah aktivitas hit and run. Bukan pula aktivitas one time deal. Menciptakan hubungan jangka panjang dengan pelanggan adalah kunci saluran profit yang lumintu.
Dakwah sesungguhnya merupakan aktivitas selling dimana seorang da’i menawarkan Islam dalam suatu kemasan tertentu. Kemasan bisa berbentuk tabligh, ta’lim, seminar, workshop, dll. Kemasan hanyalah merupakan sarana untuk memudahkan agar nilai-nilai Islam mudah diserap dan dicerna. Yang perlu dijaga adalah hubungan yang baik antara sang da’i dengan audiens. Atau dalam bahasa harakahnya, antara murabbi dengan mutarobbi. Jadi, dakwah bukanlah kerja sampingan atau aktivitas sekali bertemu lalu bubar. Dakwah harus sinambung, persisten, dan kontinyu. Berkreasilah agar pertemuan-pertemuan berkala menjadi menarik. Buatlah aktivitas tambahan dengan nuansa baru agar tidak membosankan, seperti kemping, olahraga bersama, pergi ke pantai, dll. Kegiatan-kegiatan seperti ini biasanya alam lebih memperkokoh hubungan antara murobbi dengan mutarobbi.
Prinsip 16 : Balance Your Srategi-Tactic-Value (seimbangkan strategi, taktik, dan nilai Anda). Keseimbangan penerapan strategi, taktik, dan nilai pemasaran akan menciptakan kekuatan tak tertandingi.
Dalam dakwah, strategi adalah manhaj, taktik adalah uslub, sedangkan value adalah kreasi dan inovasi supaya dakwah selalu memberikan pencerahan dan inspirasi dalam setiap langkah kehidupan. Manhaj diterjemahkan dalam bentuk uslub, kiat-kiat, selanjutnya kreasi dan inovasi kita dilapanganlah yang menentukan apakah aktivitas dakwah itu bisa diterima atau tidak oleh audiens, bernilai atau tidak.
Prinsip 17 : Balance Your What-Why-How (seimbangkan apa, mengapa, dan bagaimana Anda beraktivitas).
Pembaharuan mental dan spirit perusahaan akan tercipta apabila Anda dapat mencari, mengolah dan mempergunakan informasi untuk mempertajam daya saing perusahaan.
Pertanyaan apa yang akan kita dakwahkan, mengapa dan bagaimana kita berdakwah, kepada siapa adalah hal yang semestinya menggelitik setiap juru dakwah. Gunakan pertanyaan-pertanyaan ini sebagai panduan untuk melakukan aktivitas dakwah karena hal ini akan mendorong kita untuk mencari lebih banyak informasi dan data guna mempertajam materi-materi dakwah yang akan disampaikan.
Prinsip 18 : . Balance Your Present-Future-Gap (seimbangkan antara masa kini, masa akan datang, dan masa diantara keduanya).
Jangan pernah tertidur. Selalu bersikap siaga. Sadarlah akan posisi sekarang. Ketahuilah posisi di masa depan. Persiapkan jalan menuju kemenangan.
Setiap organisasi dakwah tentu punya rencana kerja yang mengarah kepada target-target dan tujuan tertentu yang hendak dicapai. Ketahuilah posisi organisasi anda saat ini, pikirkan serta bayangkan posisi organisasi tersebut misalkan pada 15 tahun yang akan datang. Selanjutnya persiapkan jalan untuk posisi tersebut.
TAMAT
By : Jundullah0719
Sumber : Waqafah Tarbawiyah, Serial fikrah, dakwah dan harakah Edisi 01, Ir. Syamsu Hilal
|
| |
|
| 18 Prinsip Efektifitas Da’wah (Bag-2) | Log-in or register a new user account | 0 Comments |
|
| Comments are statements made by the person that posted them. They do not necessarily represent the opinions of the site editor. |
|