|
|
|
| Taushiyah |
[1345 Reads]  |
|
Jadilah Seperti Musafir |
Posted by: admin on Thursday, March 08, 2007 - 04:38
|
Oleh : Diana Oktaria
Hudzaifah.org - Ada yang menarik ketika melihat kesibukan para anggota Mapala yang baru ”turun-gunung” yang sedang menurunkan carrier (ransel) dari mobil. Tersirat dari wajah lelah mereka, perjalanan pendakian yang berliku, bukit yang terjal, jurang yang dalam, duri yang merintangi, namun dari sinar kepuasan di wajah mereka, semua itu bukanlah penghalang untuk mencapai puncak.
Perjalanan pendakian ini laksana miniatur perjalanan hidup manusia, di mana seorang mukmin adalah pendakinya, sang musafir. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah saw dalam riwayat berikut, dari Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhu berkata, "Rasulullah saw memegang kedua pundakku lalu bersabda, "Jadilah engkau hidup di dunia seperti orang asing atau musafir (orang yang bepergian)."
Lalu Ibnu 'Umar ra menyatakan, "Apabila engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu hingga pagi hari. Dan apabila engkau berada di pagi hari maka janganlah menunggu hingga sore hari. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Dan pergunakanlah hidupmu sebelum datang kematianmu." (HR. Al-Bukhari)
Inilah permisalan yang disebutkan oleh Nabi saw dan inilah kenyataannya. Karena sesungguhnya seseorang di dunia ibaratnya seorang musafir. Maka setiap keadaan seorang musafir adalah baik untuk dijadikan pelajaran dan diterapkan dalam kehidupannya di dunia.
Jadilah di dunia bagai orang asing
Atau pengembara yang tidak lama
Berbekallah yang banyak untuk segera pulang
Bertemu dengan Allah di alam sana
(Segeralah. Izzatul Islam)
Apa yang dilakukan seorang pendaki ketika hendak melakukan perjalanan pendakian? Dia akan melakukan persiapan dengan cermat. Bekal yang dibawa disesuaikan dengan kebutuhan dan carrier yang sesuai dengan kemampuan dirinya membawa beban. Dia tidak membutuhkan membawa bekal yang banyak kecuali sekedar yang bisa menyampaikannya ke tempat tujuan. Dia hanya membawa beban yang ringan, agar tidak menghambat perjalanannya.
Dari sini dapat diambil pelajaran, bahwa sebagai seorang musafir dalam kehidupan di dunia ini, seorang mukmin tidak membutuhkan banyak bekal kecuali hanya bekal dan kendaraan sebatas yang dapat menyampaikannya kepada tujuan hidupnya, yakni negeri akhirat. Dia tidak mengambil bagian dari dunia ini kecuali apa-apa yang bisa membantunya untuk taat kepada Allah dan ingat negeri akhirat. Hal ini menunjukkan pentingnya sikap zuhud terhadap dunia, agar dapat sampai kepada tujuan dan mencegah kegagalan.
Bagaimana seorang pendaki menempuh perjalanan pendakian yang panjang dan melelahkan? Sesekali dia berhenti sejenak untuk beristirahat, melepas lelah, mengumpulkan energi kembali atau menikmati indahnya pemandangan. Namun, itu tidak membuatnya lengah pun lupa, bahwa tujuannya tidak hanya sampai di sini, sehingga dia masih bergerak terus. Istirahatnya nanti di tempat tujuan, karena di sana dia akan mendapatkan pemandangan yang jauh lebih indah, dan saat itulah, lelah yang dirasa akan lenyap dengan seketika.
Demikianlah sikap yang harus dimiliki oleh seorang mukmin. Dia tidak berniat tinggal seterusnya di dunia sebagaimana seorang musafir. Karena dunia bukanlah negerinya, dunia bukanlah tempat tinggal yang tetap untuk selama-lamanya, pun karena dunia telah membatasi antara dirinya dengan negerinya yang sebenarnya, yakni negeri akhirat. Begitulah jiwa sang musafir, terus bergerak ke perhentian terakhir. Sementara kakinya beranjak dari satu tempat ke tempat yang lain dalam bumi, hatinya telah terbang ke langit dan terpaut di sana , bercengkrama di ketinggian langit.
Sebagai penutup, ada sebuah nasihat dari ustadz Anis Matta dalam bukunya Setiap Saat Bersama Allah. ”Kita semua adalah musafir. Sekarang kita sedang berada di sini, dalam gerbong kereta waktu yang membawa kita melaju dalam perjalanaan hidup. Adapun stasiun tempat kelak kereta waktu berhenti adalah liang kubur. Maka, ketika kereta waktumu berhenti, lalu engkau keluar dari gerbong, engkau hanyalah berpindah ke gerbong lain dari kereta waktu yang akan mengantarmu ke padang pertanggungjawaban.” []
Wallahu’alam bish showab
Maraaji':
Syarah Hadits Arba'iin
|
| |
|
| Jadilah Seperti Musafir | Log-in or register a new user account | 0 Comments |
|
| Comments are statements made by the person that posted them. They do not necessarily represent the opinions of the site editor. |
|