|
|
|
| Reportase Lepas |
[1691 Reads]  |
|
Kabar dari Piala Dunia 2006 Di Jerman |
Posted by: hendra on Tuesday, June 13, 2006 - 05:43
|
Hudzaifah.org - Mata dunia kini tertuju kepada satu agenda olahraga akbar sedunia, yaitu piala dunia. Termasuk juga di Indonesia, nuansa piala dunia juga terasa di negeri yang sedang banyak ditimpa musibah ini.
Adalah Eko Adhi Setiawan, seorang alumni Universitas Trisakti yang sedang menempuh pendidikan di Jerman, tempat Piala Dunia 2006 digelar, melaporkan bagaimana suasana Piala Dunia di sana, disertai beberapa foto pendukung. Dalam reportasenya akan kita dapati bagaimana perkembangan teknologi di Jerman, juga bagaimana kondisi kultural di Jerman, khususnya dalam menghadapi momen piala dunia ini. Mari kita ikuti sejenak laporannya. Mudah-mudah dapat menginspirasikan para pembaca, terutama dalam hal perkembangan tekonologi dan kondisi kultural setempat. Berikut ini reportasenya....
***
Akhir pekan lalu saya sempatkan diri untuk melihat hiruk pikuk pembukaan Piala Dunia 2006 di Kota Muenchen (Munich). Walau tidak bisa masuk stadion Allianz Arena, namun "demam" piala dunia memang sudah sangat terasa. Bahkan sejak naik kereta ICE dari kota Kassel (Jarak dari Munchen sekitar 393 km ditempuh dalam 3 jam 45 menit), para pendukung fanatik Jerman sudah meniup terompet-terompetnya didalam kereta super cepat ini.
Sekilas tentang ICE (InterCityExpress) adalah kereta berkecepatan tinggi yang sudah mengalami 3 generasi. Pada prototipe ICE Versuchszug (testing train) kecepatan maximal mencapai 406,9 km/jam dibuat tahun 1985. Generasi pertama (ICE 1) kecepatan maksimalnya 328 km/jam, (ICE 2) 328 km/jam dan ICE generasi III mencapai 368 km/jam. Namun rata-rata kecepatan maksimal yang diizinkan hanya berkisar 280 – 300 km/jam.

Kembali ke piala dunia. Stadion Allianz Arena sering disebut oleh pelajar Indonesia di Munich dengan sebutan Alien Arena. Hal itu mungkin karena bentuk stadion yang unik mirip piring terbang dari ruang angkasa.

Allianz Arena
Stadion ini dibangun tahun 21 Oktober 2002 dan selesai dibangun dalam waktu 30 bulan dengan memakan biaya 340 Juta Euro. Kapasitas tempat duduknya mencapai 66 ribu, bila malam hari stadion ini memancarkan warna. Warna merah untuk melambangkan klub Bayern Muenchen, Biru untuk klub 1860 Muechen dan Putih untuk team nasinal bola Jerman.

Allianz Arena malam hari
Ketika kami sampai di Allianz Arena, tampak ribuan orang dari berbagai negara tumpah ruah. Pendukung Mexico dan Brazil pun turut hadir menyemarakkan pendukung Costarika melawan Jerman. Mungkin mereka juga ingin memberikan dukungan sesama warga Amerika Latin.

Pendukung Jerman

Bersama pendukung Mexico
Karena Allianz Arena sudah demikian penuh, maka para pendukung team kesebelasan yang tidak mendapatkan tiket bergerak ke Olympia Park untuk melihat siaran langsung via Big Screen. Namun untuk mencapai Olympia Park juga tidak mudah, karena hampir seluruh muda-mudi Jerman pun bergerak ke sana. Semua kereta bawah tanah yang menuju Olympia Park juga sudah demikian penuh sesak mirip Kereta Jabotabek – Bogor Kota.

Kereta bawah tanah menuju Olympia Park
Beberapa menit sebelum pertandingan dimulai, kereta pun diberhentikan sementara karena Olympia Park sudah demikian padat. Semua penumpang akhirnya melanjutkan dengan jalan kaki sekitar 2 km. Setiba di sana kami pun sudah tak kebagian tempat, polisi pun memblokir tempat masuk menuju big screen. Dan kami pun terpaksa pindah mencari restoran atau asrama mahasiwa di sekitar Olympia Park untuk menikmati siaran TV.
Setiap Jerman memasukkan gol, hampir seluruh gedung dan sudara penonton dari big screen serempak berteriak “GOOOLLL!”
Dan alhamdulillah, sejak pembukaan dan setelah pertandingan, tidak ada keributan yang terjadi. Pendukung team yang kalah pun menerima hasilnya dan warga di kota Munchen yang larut dalam pesta-pesta kecil di bar, terminal, jalan raya dan jalan raya dapat bersikap wajar atas kemenangan pertama team kesebelasan mereka.
Satu hal yang menarik di Olympia Park adalah terdapat lapangan bola nyaris vertikal yang terletak ditepi sungai. Di Olympia Park inilah Jerman menjadi tuan rumah Olimpiade tahun 1972.

Lapangan bola “vertikal”
[]
Reporter: Eko Adhi Setiawan
|
| |
|
| Kabar dari Piala Dunia 2006 Di Jerman | Log-in or register a new user account | 0 Comments |
|
| Comments are statements made by the person that posted them. They do not necessarily represent the opinions of the site editor. |
|