Welcome Guest : : Register Lost Password Log-in : :

Seorang mukmin yang satu dengan mukmin yang lain itu seperti bangunan yang saling menguatkan.

-- Hadits

AGENDA: 

Upcoming Events

Sun, 22 March 2009


[ Search ]
 
Hudzaifah.org
Poll 
Media apakah yang kini mendominasi sebagai media sumber informasi sehari-hari kamu?

[ Results | Polls ] Votes: 1073  
Halaqah 
Mengenal Islam (I)...
Mengenal Islam (VI...
Mengenal Islam (V)...
 
Advanced Search
Dengarkan ayat ini...12. 36. Dan bersama dengan dia masuk pula ke dalam penjara dua orang pemuda [754]. Berkatalah salah seorang diantara keduanya: "Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku memeras anggur." Dan yang lainnya berkata: "Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku membawa roti di atas kepalaku, sebahagiannya dimakan burung." Berikanlah kepada kami ta'birnya; sesungguhnya kami memandang kamu termasuk orang-orang yang pandai (mena'birkan mimpi). [754]. Menurut riwayat dua orang pemuda itu adalah pelayan-pelayan raja; seorang pelayan yang mengurusi minuman raja dan yang seorang lagi tukang buat roti.   (QS. Yusuf [12] : 36)
 
Taushiyah [1245 Reads] Send this story to someone Printer-friendly page
Secercah Cahaya di Negeri yang Penuh Kemelut
Posted by: ayat_al_akrash on Friday, May 12, 2006 - 11:23

Hudzaifah.org - Krisis mengguncang negeri ini, zamrud khatulistiwa. Mungkin ada ayahnya yang di-PHK, atau di dzalimi oleh penguasa negeri. Tertimpa musibah. Inilah realita kehidupan. Sebagian orang begitu mewahnya menikmati hidup, sedang sebagian yang lain ada di bawah garis kemiskinan, hingga busung lapar.

Innalillah... Pembunuhan menjadi mudah, perzinaan dimana-mana dan dengan tanpa malu dipertontonkan di depan khalayak. Pengkhianatan menjadi hal yang biasa, kala suami dan isteri berpisah karena adanya perselingkuhan. Pun para pengkhianat negara yang dengan tanpa rasa berdosa merampok harta rakyat. Para pengkhianat yang berkolusi dengan teroris Amerika untuk memberi gelar teroris kepada pejuang muslim yang kaffah.

Begitu kompleksnya permasalahan kehidupan. Maka tak heran bila kini orang gila semakin meningkat karena tak tahan dengan himpitan hidup. Meski belum sampai ke neraka, kini di dunia sudah seperti neraka. Terlebih lagi kenaikan BBM yang menyesakkan dada. Orang-orang antri dan rela mati demi mendapatkan jatah uangnya. Manipulasi data.

Dan kala pemudanya sibuk dengan cinta yang memabukkan. Hari-harinya adalah untuk kepuasan diri dan penghancuran diri. Sampai seorang rela membunuh diri demi membuktikan cintanya pada sang kekasih. Pun yang tua tak mau kalah dengan berlomba-lomba menimbun kekayaan dan menuhankan seks.

Musibah melanda negeri. Kebakaran, bencana alam dan sebagainya. Hari demi hari, kita menyaksikan berita kejahatan. Entah apalagi kebaikan yang ada di negeri ini. Kala banyak sarjana-sarjana muslim lari ke luar negeri dan rela membangun negeri lain ketimbang negeri sendiri. Tak ada pengorbanan.

Bila bukan dari kacamata iman, mungkin kita akan berkata kepada orang-orang di dalam kubur, “Duhai.. alangkah baiknya jika aku menjadi engkau saja.” Bila melihat sekeliling kita, begitu banyak para pengemis dan pengamen. Anak-anak dijual untuk menjadi pengemis jalanan. Mengetuk rasa iba para pejalan. Kuantitas orang yang berjilbab masih sangat sedikit dibandingkan lautan manusia lainnya. Pun laki-laki hidung belang yang menodai malam-malam panjang. Hedonisme, hidup dengan hura-hura. Narkoba. Hiruk pikuk kehidupan. Kala intel-intel zionis berkeliaran untuk mencari kelemahan para aktivis Islam.

Kala zakat tak ditunaikan. Banyak yang terbalik di negeri ini. Dulu di masa Rasulullah SAW, yang diangkat menjad pemimpin adalah karena kasholehannya, tapi kini yang diangkat menjadi pemimpin adalah orang yang dianggap kuat yang dianggap dapat memayungi jamaah. Siapa yang menuhankan akal bahwa kekuatan itu dapat memberi perlindungan? Maka dapat kukatakan bahwa kiamat itu sudah semakin dekat.

Tetapi sebagai orang beriman, kita dilatih oleh-Nya untuk senantiasa optimis dalam menghadapi hidup. Ada hikmah di setiap kejadian. Memandang kehidupan dari kacamata iman, maka segala ujian ini dapat dipandang sebagai kasih sayang-Nya, pun tarbiyah dari-Nya agar kita lebih meningkatkan kualitas diri kita. Tenang dalam menghadapi masalah. Sebagai orang beriman, tentu bukan daftar keluh kesah yang kita suburkan. Jadilah pembela keadilan yang ikut menunaikan hak-hak manusia.

Saat orang-orang yang mengaku aktivis berlindung di balik ruangan sejuk ber-AC dan tak merasakan debu peperangan. Yang hari-harinya diisi oleh kepalsuan. Ada saatnya, ada masanya ketika kita harus terjun ke masyarakat. Hingga kita membenturkan idealisme dalam diri kita dengan realita. Manakah yang akan menang?

Bila dari akal, maka kemenangan Islam yang kita harapkan sangatlah jauh… jauh… dan sangat panjang jalannya. Yang membuat dada kita sesak, dan bisa jadi membunuh diri kita sendiri. Tetapi kita meyakini bahwa sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.

Di tengah kemelut kehidupan, masih ada orang-orang yang bergerilya mengorganisir kebaikan. Mengetuk hati yang masih memiliki iman untuk bersinergi melawan kebatilan. Mereka, rela mengorbankan apa yang mereka miliki, walau mereka sendiri membutuhkannya. Adalah mereka hanya mengharapkan balasan dari Tuhannya. Siapa bilang perubahan itu datang dari kekayaan dan kekuasaan. Tidak. Semuanya adalah dari kekuatan iman.

Kala banyak orang bertanya, “Untuk apa susah-susah membela Palestina yang jauh di sana, lah wong negara sendiri saja susah!” Itulah dia, kita susah karena dari internal kita sendiri. Sedang muslim di Palestina susah karena serangan eksternal. Maka orang-orang di negeri ini seharusnya menyelesaikan permalahan internalnya, agar kita bisa bersama-sama maju menyelesaikan masalah di luar negeri. Memang masih panjang dan berliku jalan untuk membebaskan Palestina. Tetapi prinsip orang beriman, lakukanlah apa yang bisa engkau lakukan karena sekecil apapun, itu akan sangat berarti. Demo-demo yang dilakukan adalah wujud solidaritas, pun untuk mengetuk muslim di negeri ini agar segera menyelesaikan permasalahan internal mereka. Mendukung secara moril, pun materil untuk mereka yang di sana.

Keluarlah sejenak dari dinding-dinding kampus dan dinding kompleks rumah. Di luar sana berjuta-juta manusia resah jiwanya. Jiwa yang ingin membahagiakan keluarganya juga di hari raya. Begitu banyak orang yang mampu berfikir tentang aneka permasalah negeri, tetapi berapa banyak orang yang mau dan mampu berbuat? Siapakah aku? Ya, aku kecil bila sendiri dan aku bisa menjadi kuat kala aku berjamaah. Menggabungkan potensi diri dengan yang lain untuk meluruskan apa yang bengkok dan salah di negeri ini. Dan tidaklah dapat perubahan itu dilakukan bila bukan dari diri sendiri dahulu. Maka tegakkanlah Islam di hatimu, niscaya ia tegak di bumimu. (Ayat Al Akrash)
Send this story to someone Printer-friendly page
 
Related links 
· Eramuslim
· More about Dunia Islam Kontemporer
· News by ayat_al_akrash


Most-read story in Dunia Islam Kontemporer:
Ahwalul Muslimin Al Yaum (Problematika Ummat Islam Hari Ini)



Pesan Singkat


Hanya yang sudah login yang dapat mengisi pesan singkat 

Secercah Cahaya di Negeri yang Penuh Kemelut | Log-in or register a new user account | 0 Comments
Comments are statements made by the person that posted them.
They do not necessarily represent the opinions of the site editor.



Hudzaifah.org
Tampilan terbaik pada resolusi 1024 x 768
You can log-in or register for a user account here.

Hudzaifah.org, since January 2003 - about - contact - powered by Postnuke
Tidak dilarang menyebarluaskan artikel2 di situs ini dengan menyebutkan sumbernya