|
Hudzaifah Trisakti - Hâfidzhah (penghafal Qur`ân). Termasuk diantara wanita-wanita pembawa petunjuk. Hâmilat Kitabullâh. Indahnya, ia seorang mahasiswi. Di Kairo. Seperti kita juga. Hanya saja ia sudah berkeluarga. Hidup pas-pasan. Jangankan untuk shopping di Genena atau Wonderland, untuk membayar rumah saja sudah terasa berat. Tapi, ia tetap tersenyum. Menikmati segala kesederhanaan. Menerima berbagai keterbatasan dan kekurangan. Lapang dada.Ikhlâsh.
Ada lagi sang penebar hidayâh. Juga kesejukan. Terutama bagi suami tercinta. Kalau di Indonesia, mungkin sudah dipanggil ustâdzah. Disini, sabar dirumah sempit. Beralas tikar.Tanpa perabotan lux. Namun suasana bersih dan nyaman. Ia tak sempat berfikir untuk ikut trend rihlah ke luxor, berhari-hari di Suncatherine, paling tidak yang terkadang ikut : cathering-nya, snack buatannya, bakwannya. Masakannya dinikmati para peserta rihlah, sementara ia dan suami cukup menikmati sisa-sisa (lebihan) di rumah saja. Nikmat. Ya, merekalah wanita baja. Tegar hidup susah. Tidak cengeng dan manja. Tidak banyak menuntut. Tak tergubris dengan aroma hedonis. Tiada terpengaruh dengan gaya hidup wanita metropolis. Bahkan, sampai rela bekerja berat demi membantu jerih payah sang suami. Bak permata. Meskipun tak menyimpan permata dan perhiasan mewah lainnya. Kemilaunya memancar dari kepribadian. Wanita model ini mungkin tersembunyi. Terbenam bersama perjuangan membina rumah tangga. Ia bisa jadi kurang populer. Waktunya diinfakkan hanya untuk mentarbiyah anak-anak. Namanya tak terdetik di benak mahasiswa umumnya, tapi menjadi buah bibir suami dan anak-anak. Sebaliknya, justeru makhluk yang paling ditakutinya adalah terkenal. Popularitas memang bukan menjadi obsesinya. Ketenaran dan karir bukan terlarang, tapi itu menjadi pemandangan memilukan jika ia tenar, terkenal, dan menjadi buah bibir tetapi rumah tangga amburadul. Sukses menjadi aktivis, gagal menjadi ibu. Berhasil meraup simpatisan banyak, asing dengan anak-anaknya sendiri. Dikenal lembut dan ramah dengan siapa saja, dirumah kasar dengan suami dan anak-anak. Luwes bergaul dan piawai diatas podium, tergagap-gagap mengurus bayi. Lebih baik, jika harus memilih, biarlah nggak popular, tapi suaminya menjadi tokoh panutan. Biarlah tak terdengar masyarakat umum, tapi anak-anaknya menjadi omongan khalayak.”Wah, anak itu hebat sekali. Sudah pinter, soleh lagi,” yang lain menimpali, “Iya yah, padahal ekonominya seret” yang satu bingung, “Ibunya dulu ngidam apa yah waktu hamil?” Undang-undang sejarah menegaskan:“ Di balik setiap yang agung terdapat ibu mulia.” Permasalahannnya bukan pada ngidam, tapi pada pribadi sang ibu. Bayangkan, bagaimana Rasululloh begitu panik dan panas dingin saat turun amanah ilahiyah kepadanya, walhamdulillâh Khadijah bak embun yang menyejukkan. Ia menenangkan jiwa Rasulullâh. Meyakinkannya. Menguatkannya. Para pahlawan selalu didampingi isteri pejuang. Adakah sang panutan hidup bersama wanita nakal?. Anda mungkin kenal betul seorang ulama besar, dâiyah mujahid, as-Syaikh Abul Hasan Ali Husni an-Nadawiy. Padahal beliau sebenarnya produk Sayyidah, Ibunya yang selalu membiasakan tilawah Quran, “Ibu saya pasti bertanya apakah saya sudah membaca al-Kahfi…” Begitu pengakuannya. Dan, pengakuan setiap orang besar. Kepada para wanita baja. Ibu-ibu shalihah. Kami sangat membutuhkan kehadiranmu. Jangan tinggalkan kami!. Karena sesungguhnya Anda-lah permata. Bunga-bunga peradaban yang darinya generasi ini menjadi harum!
Sumber: SINAI online - http://www.sinai.cjb.net
|